BANGGAI – Pagi itu, sinar matahari menembus celah pepohonan di Desa Kayotanyo, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Pantulannya mengenai debu halus yang beterbangan di udara, seolah menari mengikuti ritme kerja warga dan aparat kepolisian yang bergotong royong di lahan kosong milik Polres Banggai lahan yang akan menjadi Kantor Sementara Sub Sektor Luwuk Timur.
Suara palu berpadu dengan hentakan sekop yang menggali dan meratakan tanah. Batu kali ditata rapi, adukan semen diaduk hingga kental, dan garis pondasi mulai tampak jelas. Setiap ayunan tangan dan tarikan sekop memantulkan semangat kebersamaan dan rasa tanggung jawab.
Di pinggir lahan, anak-anak memandangi proses itu dengan takjub, sementara aroma tanah basah dan semen segar memenuhi udara.
Kepala Sub Sektor Luwuk Timur, IPDA Hariyadi, mengatakan, pembangunan kantor sementara ini dilakukan sebagai solusi usai gedung lama yang selama ini ditempati polisi dikembalikan kepada Pemerintah Desa Handuhon untuk dijadikan Kantor Koperasi Merah Putih.
“Sambil menunggu pembangunan baru, kami sepakat membangun kantor sementara,” ujar IPDA Hariyadi pada Poros Banggai.com, Senin (10/11/2025).

Ia menjelaskan, pembangunan Kantor Polsubsektor Kecamatan Luwuk Timur ini tak lepas dari dukungan pemerintah kecamatan, para kepala desa se-Kecamatan Luwuk Timur, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah itu, serta sinergi seluruh unsur masyarakat.
Meski dengan anggaran terbatas, semangat gotong royong menjadi energi utama. Warga dari berbagai usia bergantian mengaduk semen, menata batu, dan mengisi lubang pondasi.
Di sela pekerjaan, nampak petugas kepolisian Sub Sektor Luwuk Timur tetap melayani masyarakat yang datang mencatat laporan, mengurus administrasi, dan memastikan pelayanan publik tetap berjalan.
Suara sekop, palu, dan percakapan ringan berpadu menjadi simfoni kerja yang sederhana namun bermakna.
Camat Luwuk Timur, Adnan Buyung, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pembangunan fisik.
“Ini simbol nyata kolaborasi antara pemerintah, aparat dan masyarakat,” katanya.
Kini, lahan yang perlahan rata itu menyimpan harapan baru. Pondasi yang terbentuk bukan hanya pondasi bangunan, tetapi juga pondasi semangat, tanggung jawab, dan kebersamaan. Kantor sementara itu menjadi saksi bahwa pelayanan publik dapat terus berjalan ketika warga dan aparat bekerja bahu-membahu.
Di ujung timur Luwuk, di antara debu, keringat, dan suara sekop, lahirlah sebuah kisah tentang gotong royong yang nyata cerita tentang harapan, tekad, dan kerja sama yang tak lekang oleh panas matahari.*













