BANGGAI – Sabtu pagi, halaman Mapolres Banggai seperti berubah menjadi ruang yang menampung segala bentuk perasaan manusia haru, kehilangan, bangga, dan berat hati yang tak terucap. Sabtu pagi (10/1/2026), Upacara pelepasan Kapolres Banggai, AKBP Putu Hendra Binangkari, S.I.K, bukan sekadar prosesi pergantian jabatan, ia menjelma menjadi peristiwa yang akan diingat oleh banyak orang, terutama karena satu sosok kecil yang berdiri di tengah lautan personel.
Di antara barisan perwira dan bintara yang berdiri tegap, di antara tokoh masyarakat yang hadir memberikan penghormatan, seorang anak kecil berdiri dengan mata yang sembap. Wajahnya menatap lurus ke arah Kapolres, seakan takut kehilangan sosok yang baginya lebih dari sekadar pejabat, tetapi seorang figur yang selama ini hadir, mendengar, dan memberi perhatian dalam dunia kecilnya.
Anak itu berjalan perlahan mendekat ketika Kapolres bersiap meninggalkan mako. Tangan kecilnya terulur ragu, tapi penuh keberanian. Kapolres menunduk, menyambut tangan itu, dan di detik itulah suasana berubah. Suara yang sebelumnya hanya langkah sepatu di atas paving mendadak bergemuruh oleh isak tertahan.
Genggaman tangan itu begitu kuat. Kecil, namun seperti membawa seluruh perasaan yang tak mampu diucapkan. Anak tersebut menggenggam tangan Kapolres lebih lama dari yang diharapkan upacara formal. Ia menarik perlahan, seolah meminta waktu tambahan bahkan sedetik untuk menyimpan sosok ini dalam hatinya.
Sejumlah personel menoleh, dan beberapa terlihat buru-buru mengusap mata. Pemandangan itu bukanlah bagian dari skenario. Ia muncul begitu saja, menyentuh tanpa izin, dan menghunjam tanpa kompromi.

Kedekatan Kapolres dengan anak kecil itu sebenarnya bukan hal baru, menurut beberapa personel dan warga yang hadir. Anak itu sering terlihat di berbagai kegiatan kemasyarakatan yang melibatkan Kapolres. Ada kalanya ia muncul di sela acara bakti sosial, atau tersenyum malu-malu saat melihat Kapolres menyapa masyarakat. Hubungan mereka sederhana, tapi nyata sebuah kedekatan yang terbangun oleh kepedulian yang konsisten.
Ketika rangkaian pedang pora mulai terbentuk, wajah anak itu berubah. Ada ketakutan kecil di matanya, seperti memahami bahwa setiap pedang yang terangkat adalah tanda perpisahan yang tak bisa ditunda lagi. Ia memandang kiri–kanan, mungkin mencari jawaban, mungkin mencari cara untuk memperlambat waktu.
Kapolres menepuk kepalanya perlahan sebelum melangkah melewati barisan kehormatan. Sentuhan lembut itu seolah menjadi pesan terakhir yang hanya mereka berdua yang mengerti, bahwa kedekatan tidak berhenti hanya karena jarak berubah.
Begitu upacara selesai, kendaraan yang membawa Kapolres perlahan maju keluar mako. Anak itu kembali melambaikan tangan, kali ini lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih lama. Tangan kecil yang bergetar itu disambut oleh lambaian balik sang Kapolres dari dalam mobil. Di momen ini, beberapa anggota polisi yang terkenal tegas di lapangan pun tak kuasa menahan air mata yang akhirnya jatuh juga.
Tokoh-tokoh masyarakat tampak ikut terdiam. Sebagian mengangguk pelan, menyadari bahwa mereka baru saja menyaksikan sebuah perpisahan yang tidak hanya berbicara tentang kewenangan dan jabatan, tetapi tentang hubungan manusia yang sesungguhnya hubungan yang tumbuh dari kepedulian yang tulus.
Dalam sejumlah tahap pergantian jabatan, biasanya yang paling diingat adalah barisan pedang pora, pidato resmi, dan serah terima jabatan. Namun kali ini berbeda. Yang paling membekas adalah tangan kecil yang tak ingin melepaskan, dan sosok Kapolres yang berhenti sejenak untuk membalas rasa yang tulus dari seorang anak.
Perpisahan itu bukan lagi milik institusi. Ia menjadi milik semua orang yang menyaksikan. Sebuah kisah tentang pengabdian seorang pemimpin yang menorehkan jejak bukan hanya melalui kebijakan dan kinerja, tetapi melalui hubungan kemanusiaan yang menyentuh siapa saja bahkan jiwa paling kecil di antara mereka.
Dan ketika gerbang mako menutup perlahan di belakang kendaraan yang melaju, halaman itu masih menyimpan gema dari momen paling manusiawi pagi itu seorang anak yang berdiri tegak, menatap kepergian sosok yang ia kagumi, dengan hati yang mungkin masih terlalu kecil untuk memahami perpisahan, tetapi cukup besar untuk merasakannya.*













