BANGGAI – Sabtu malam, (24/1/2026) sekitar pukul 20.00 Wita, Luwuk berada dalam ketenangan yang khas. Angin pesisir berhembus lembut, membawa aroma laut yang menenangkan, sementara cahaya lampu jalan yang kekuningan memantul di aspal yang mulai lembap oleh embun malam. Di antara keheningan itulah, kendaraan patroli Satuan Samapta Polres Banggai melaju perlahan, seolah menyapu setiap sudut kota dengan rasa aman.
Patroli malam itu dipimpin langsung oleh Kasat Samapta, AKP Jimyarto Anasim, SH, seorang perwira yang tak hanya dikenal tegas, tetapi juga punya kedekatan batin dengan masyarakatnya. Bagi warga Banggai, sosok ini bukan hanya aparat, melainkan figur yang kerap hadir di saat cemas menjadi bayang-bayang.
Saat rombongan memasuki kawasan Tanjung Sari, suara mesin perlahan mengecil. Tim turun dari kendaraan, melangkah mendekati sejumlah warga yang sedang duduk di teras rumah mereka. Mulanya, ada sedikit keterkejutan. Namun hanya butuh beberapa detik sebelum wajah-wajah itu berubah menjadi senyum lega persis seperti seseorang yang merasa ditemani di malam gelap.

Di bawah langit yang nyaris tanpa bintang, percakapan mulai mengalir hangat. Warga menyuarakan kegelisahan yang selama ini menggantung di dada, dinamika seputar isu eksekusi lahan yang membuat banyak hati tak tenang. Suara laut yang pelan-pelan memecah keheningan seolah menjadi latar dari kejujuran warga yang malam itu akhirnya menemukan ruang didengar.
AKP Jimyarto mendengarkan dengan sabar, tatapannya menenangkan. Saat ia akhirnya berbicara, nada suaranya tegas namun penuh empati.
“Tetap tenang. Jangan terpancing isu yang belum jelas. Yang penting, kita sama-sama jaga Tanjung Sari tetap aman dan kondusif,” ucapnya.
Beberapa warga mengangguk pelan, ada yang menghela napas panjang napas lega. Dan malam itu, sang Kasat Samapta menambahkan sesuatu yang membuat suasana makin cair, makin dekat, dan makin manusiawi.
“Kami ini polisi, bagian dari masyarakat Banggai. Kami hadir bukan hanya untuk menertibkan, tapi untuk menemani, mendengar, dan memastikan rasa aman itu betul-betul ada. Kita ini satu,” katanya.

Kata-kata itu terasa seperti selimut tipis yang menyelimuti kecemasan. Kehadiran polisi malam itu bukan sekadar rutinitas, melainkan langkah kecil yang menghapus jarak antara aparat dan rakyat.
Patroli ini merupakan rangkaian kegiatan Turjawali Samapta, bentuk kehadiran polisi yang bersifat prepentif dan preventif, memastikan keadaan tetap terkendali sebelum masalah benar-benar muncul.
Setelah memastikan bahwa Tanjung Sari berada dalam kondisi aman, rombongan kembali melanjutkan patroli. Di kejauhan, lampu rotator biru menembus gelapnya malam, bergerak perlahan seperti penjaga yang tak pernah benar-benar tidur memberi tanda bahwa keamanan kota ini selalu dijaga, selangkah lebih dekat, selangkah lebih sigap.













