Example 970x250

Diterjang Gelombang, KM 4 Bersaudara Kandas hingga Karam di Perairan Desa Bunga

banner 120x600

BANGGAI — KM 4 Bersaudara, kapal kayu yang mengangkut sekitar 30 ton kopra dari Taliabu, Maluku Utara, menuju Luwuk, Kabupaten Banggai, kandas hingga karam setelah diterjang gelombang di perairan Desa Bunga, Kecamatan Luwuk Utara, Kamis (1/10/2026).

Kapal tersebut karam saat mulai memasuki perairan Luwuk. Perubahan kondisi cuaca disertai gelombang menghantam badan kapal hingga mengalami kerusakan. Sebagian muatan kopra ikut terdampak, sementara delapan anak buah kapal (ABK) berhasil diselamatkan.

Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas II Syahbandar Luwuk, Hasfar S.E., M.M., mengatakan peristiwa tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 15.00 WITA.

Menurut Hasfar, informasi awal mengenai kapal yang mengalami kecelakaan tersebut diterima pihak Syahbandar dari masyarakat. Sekitar pukul 16.00 WITA, tim kemudian bergerak menuju lokasi untuk melakukan penanganan dan membantu proses evakuasi.

“Informasi awal kami terima dari masyarakat. Tim atau anggota langsung turun ke lokasi untuk melakukan evakuasi,” kata Hasfar saat ditemui media ini di ruang kerjanya, Jumat (2/10/2026).

Lokasi kejadian diperkirakan sekitar lima kilometer dari Pelabuhan Luwuk, tepatnya di wilayah perairan Desa Bunga.

Hasfar menjelaskan, sebelum memasuki perairan Luwuk, kondisi kapal masih dalam keadaan normal. Namun, saat mendekati wilayah perairan tersebut, kondisi cuaca berubah dan gelombang menghantam badan kapal.

Benturan gelombang menyebabkan kapal mengalami kerusakan. Kondisi semakin sulit setelah mesin pompa air mengalami gangguan dan tidak berfungsi, hingga kapal akhirnya kandas sebelum kemudian karam.

Sebagian muatan kopra ikut terdampak akibat kejadian tersebut. Sebagian muatan tergerus ombak, sementara lainnya terbawa arus.

Delapan ABK berhasil dievakuasi dan seluruhnya dalam kondisi aman. Hasfar memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Hasfar juga mengatakan dokumen kapal dalam kondisi lengkap. Penanganan terhadap kapal dan sisa muatan dilakukan setelah kapal mengalami kerusakan dan karam di lokasi kejadian.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian Syahbandar Luwuk terhadap pentingnya kesiapan kapal dan awak sebelum melakukan pelayaran, terutama ketika kondisi cuaca berpotensi berubah.

Hasfar mengimbau masyarakat dan pengusaha jasa pelayaran agar tidak memaksakan pelayaran apabila kondisi cuaca tidak memungkinkan. Selain memperhatikan perkembangan cuaca, kondisi mesin, kelayakan kapal, serta seluruh perlengkapan keselamatan juga harus dipastikan sebelum kapal berlayar.

“Utamakan keselamatan. Jangan memaksakan diri kalau kondisi cuaca tidak memungkinkan,” ujarnya.

Syahbandar Luwuk, kata Hasfar, akan terus melakukan pemantauan terhadap kapal-kapal yang akan melakukan pelayaran dari maupun menuju Luwuk dengan memperhatikan perkembangan cuaca dan aspek keselamatan pelayaran.

Pemantauan tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk meminimalkan risiko kecelakaan serta memastikan aktivitas transportasi laut berlangsung dengan mengutamakan keselamatan awak kapal, penumpang, dan muatan.(Ay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *