Example 970x250

Ombak Musiman dan Jalan yang Selalu Terancam di Lamala–Manto

banner 120x600

BANGGAI – Laut tak pernah benar-benar diam di pesisir Desa Pondan, Kecamatan Lamala, gelombang kembali datang seperti janji yang ditepati saban tahun. Air pasang menyeberang ke badan jalan penghubung Lamala–Manto, menghamparkan pasir dan kerikil di atas aspal yang basah dan licin.

Pantauan media ini di lapangan, Sabtu (21/2/2026), ombak bergulung tanpa jeda panjang. Setiap gelombang besar menghantam sisi jalan yang hanya berjarak beberapa meter dari bibir pantai. Pengendara memperlambat laju kendaraan. Sebagian memilih berhenti, menunggu surut. Tak ada tembok penahan yang cukup panjang untuk meredam terjangan itu.

Gambar meja kerja

Ruas Lamala–Manto adalah akses darat terdekat bagi warga pesisir menuju pusat aktivitas ekonomi di Kabupaten Banggai. Dari jalur inilah hasil kebun dan tangkapan nelayan bergerak ke pasar. Ketika ombak melintas di atas aspal, distribusi ikut tersendat. Ongkos angkut naik jika harus memutar lewat jalur alternatif yang lebih jauh.

“Setiap musim ombak pasti begini. Kami khawatir kalau suatu saat jalan benar-benar putus,” kata seorang warga Pondan.

Secara geografis, sebagian badan jalan berdiri nyaris sejajar dengan garis pantai. Tanpa perlindungan memadai, abrasi dan gelombang tinggi menjadi ancaman rutin. Video terjangan ombak itu beredar cepat di media sosial, memperlihatkan air laut menghempas tanpa penghalang berarti.

Camat Manto, Esly Mandey, yang dikonfirmasi media ini membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebut kewenangan penanganan ruas jalan berada di tingkat provinsi. Pemerintah kecamatan, kata dia, setiap tahun mengusulkan pembangunan talud penahan ombak melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), termasuk menyampaikan proposal kepada gubernur serta berkomunikasi dengan anggota DPRD provinsi.

Namun realisasi anggaran, menurutnya, belum sebanding dengan kebutuhan. “Yang dianggarkan hanya sekitar 20 sampai 30 meter, sementara wilayah terdampak kurang lebih 300 sampai 400 meter. Ini jalur penopang ekonomi warga,” ujarnya.

Warga berharap solusi tak lagi bersifat tambal sulam. Selain pembangunan tembok penahan ombak, mereka menuntut perbaikan menyeluruh pada ruas jalan yang saban tahun tergerus air laut. Bagi mereka, Lamala–Manto bukan sekadar bentang aspal di tepi pantai. Ia adalah penghubung hidup jalur yang menentukan apakah hasil kebun tiba di pasar tepat waktu, apakah ikan tetap segar saat dijual, dan apakah kampung pesisir itu tetap tersambung dengan wilayah lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *