Example 970x250

Putus Rantai Stunting dari Hulu, Puskesmas Toili II Optimalkan Posyandu Prakonsepsi

banner 120x600

BANGGAI – Upaya penurunan angka stunting atau tengkes terus menjadi prioritas nasional dalam rangka menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas. Meski capaian di sejumlah daerah menunjukkan tren positif, pendekatan pencegahan kini mulai difokuskan dari hulu, yakni sebelum masa kehamilan, melalui optimalisasi peran Posyandu Prakonsepsi.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting nasional tercatat sebesar 19,8 persen. Di Provinsi Sulawesi Tengah, angka tersebut masih tergolong tinggi, yakni 27,2 persen. Namun, Kabupaten Banggai berhasil menekan prevalensi hingga 10,4 persen, dengan Kecamatan Toili mencatat angka lebih rendah sebesar 9,4 persen.

Meski capaian tersebut berada di bawah rata-rata nasional, upaya pencegahan dinilai tidak boleh mengendur. Pendekatan berbasis siklus hidup (life cycle approach) menjadi strategi penting untuk memutus rantai stunting sejak dini.

Salah satu kajian yang menyoroti hal ini adalah penelitian berjudul “Analisis Hubungan Kinerja Posyandu Prakonsepsi terhadap Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Toili II Kabupaten Banggai” yang disusun oleh Riska dari Program Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk.

Penelitian tersebut menegaskan bahwa Posyandu Prakonsepsi memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam upaya promotif dan preventif. Sasaran layanan meliputi calon pengantin, pasangan usia subur, serta remaja putri.

Kinerja posyandu yang optimal dinilai mampu menekan faktor risiko stunting melalui layanan seperti skrining anemia, pemantauan status gizi, serta edukasi kesehatan reproduksi guna mencegah Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada calon ibu.

Namun demikian, implementasi di wilayah kerja Puskesmas Toili II masih menghadapi sejumlah kendala. Cakupan layanan prakonsepsi belum optimal, jumlah dan kapasitas kader posyandu masih terbatas, serta rendahnya pemahaman masyarakat terkait pencegahan stunting. Selain itu, sistem pencatatan data dan koordinasi lintas sektor dinilai belum terintegrasi secara maksimal.

Kepala Puskesmas Toili II, Riska, dalam keterangannya menegaskan bahwa penguatan layanan prakonsepsi menjadi langkah krusial dalam menekan angka stunting secara berkelanjutan.

“Upaya pencegahan tidak bisa hanya dilakukan saat ibu sudah hamil. Justru yang paling menentukan adalah kondisi sebelum kehamilan. Karena itu, kami terus mendorong optimalisasi Posyandu Prakonsepsi agar masyarakat, khususnya calon ibu, mendapatkan edukasi dan layanan kesehatan sejak dini,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa peningkatan kapasitas kader dan keterlibatan lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program di lapangan.

“Kami membutuhkan dukungan semua pihak, mulai dari pemerintah desa, KUA, hingga sekolah dan keluarga. Tanpa kolaborasi, upaya percepatan penurunan stunting akan sulit tercapai secara maksimal,” tambahnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian penting mengingat faktor risiko stunting kerap bermula dari kondisi kesehatan ibu sebelum kehamilan. Intervensi sejak fase remaja hingga pranikah dinilai krusial untuk memastikan kesiapan gizi dan kesehatan calon ibu.

Sebagai respons atas berbagai tantangan tersebut, kajian ini menawarkan tiga opsi kebijakan yang dapat dipertimbangkan oleh pemangku kepentingan.

Pertama, mempertahankan program yang berjalan (status quo), meski berpotensi menghasilkan dampak yang lambat.

Kedua, penguatan internal melalui peningkatan kapasitas kader posyandu dengan biaya relatif terjangkau.

Ketiga, integrasi lintas sektor yang melibatkan berbagai pihak seperti KUA, PKK, sekolah, dan pemerintah desa, yang dinilai mampu memperluas dampak intervensi meski membutuhkan koordinasi yang lebih kompleks.

Selain itu, terdapat lima rekomendasi strategis yang diajukan untuk memperkuat upaya pencegahan stunting. Rekomendasi tersebut meliputi peningkatan kapasitas kader melalui pelatihan intensif, standardisasi skrining kesehatan pranikah, penguatan edukasi mengenai 1000 Hari Pertama Kehidupan, peningkatan sinergi lintas sektor, serta digitalisasi sistem monitoring dan pelaporan.

Melalui penerapan strategi yang terarah dan berkelanjutan, wilayah kerja Puskesmas Toili II diharapkan mampu menekan risiko stunting sejak fase prakonsepsi. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari percepatan pencapaian target penurunan stunting di Kabupaten Banggai, demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif di masa depan. (Ai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *