BANGGAI – Ribuan jamaah dari berbagai penjuru Kabupaten Banggai dan wilayah sekitarnya memadati Lapangan Potoutusan, Kelurahan Kintom, Kecamatan Kintom, dalam acara peringatan Haul ke-57 Al-Habib Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang lebih dikenal dengan Guru Tua, yang dirangkaikan dengan Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW, Minggu (14/9/ 2025).
Acara sakral dan penuh makna ini tidak hanya menjadi ajang untuk mengenang jasa besar sang ulama karismatik, namun juga menjadi ruang silaturahmi, refleksi spiritual, serta penyatuan tekad untuk melanjutkan perjuangan Guru Tua dalam membangun pendidikan Islam dan peradaban umat.
Acara berlangsung dengan penuh khidmat dan semarak, dihadiri oleh sejumlah tokoh penting. Turut hadir dalam kegiatan tersebut:
Ketua Utama Alkhairaat H.S. Alwi Saggaf Al-Jufri, Lc., MA,Pimpinan Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Dolo, Dr. H.S. Ali Hasan Al-Jufri, Lc., MA, Bupati Banggai, Ir. H. Amirudin, SP., MM dan Wakil Bupati, Asisten III Administrasi Umum Setdaprov Sulteng, M. Sadly Lesnusa, mewakili Gubernur Sulawesi Tengah, Anggota DPRD Provinsi Sulteng, Samiun L. Agi, Kepala Kejaksaan Negeri Banggai, Kabag Log mewakili Kepala Kepolisian Resor Banggai, Kemenag, Sekda Banggai, Danramil, para Camat, Kepala Desa, alim ulama, habaib, dan ribuan Abnaul Khairaat dari berbagai wilayah.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan resmi, laporan panitia pelaksana, pembacaan maulid, manaqib Guru Tua, serta tausiyah dari para ulama dan dzurriyah (keturunan) Guru Tua.
Al-Habib Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri lahir di Taris, Hadramaut, Yaman, pada 14 Sya’ban 1309 H (15 Maret 1892 M), dari keluarga ulama dan bangsawan yang nasabnya bersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Sejak kecil, beliau dikenal cerdas dan tekun menuntut ilmu, baik di kampung halamannya maupun di berbagai tempat di Jazirah Arab dan Asia Tenggara.
Perjalanan dakwahnya membawanya hingga ke Sulawesi, Indonesia. Pada tanggal 11 Juni 1930, beliau mendirikan Lembaga Pendidikan Alkhairaat di Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang kini telah berkembang menjadi ribuan unit pendidikan, dari TK hingga perguruan tinggi, tersebar di kawasan timur Indonesia.
“Guru Tua bukan hanya tokoh besar bagi Alkhairaat, namun juga Pahlawan Peradaban dan Pendidikan di Bumi Sulawesi Tengah dan Indonesia Timur,” ujar Asisten III Setdaprov Sulawesi Tengah, M. Sadly Lesnusa dalam sambutannya.
Guru Tua dikenal sebagai sosok rendah hati, ikhlas, dan pejuang pendidikan sejati. Selama pendudukan Jepang, meski sekolah-sekolah ditutup, beliau tetap mengajar secara sembunyi-sembunyi. Ia tidak pernah mengambil keuntungan materi, dan para muridnya belajar tanpa dipungut biaya.
“Beliau adalah samudera ilmu dan kasih sayang yang tak pernah kering memberi,” ucap salah satu alumni Alkhairaat yang hadir.

Dalam sambutannya, Bupati Banggai Amirudin menyatakan komitmennya untuk mendukung pelaksanaan Haul Guru Tua secara berkelanjutan.
“Insya Allah, mulai tahun 2026, kita jadikan Haul Guru Tua sebagai agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Banggai, dan kami siapkan anggaran untuk mendukung pelaksanaannya,” ungkap Bupati Amirudin.
Selain itu, ia menyampaikan bahwa Pemda Banggai terus memberikan perhatian terhadap sekolah-sekolah Alkhairaat, baik melalui pembangunan fisik, bantuan sarana, maupun dukungan program pendidikan lainnya. Ia juga menyambut baik rencana pembangunan Pondok Pesantren Alkhairaat di Kecamatan Kintom.
Dukungan ini diapresiasi oleh Ketua KOMDA Alkhairaat Banggai, Muhammad Al-Habsyi, ST, yang juga mendorong agar perjuangan Guru Tua diakui secara nasional.
“Kami sangat berharap Guru Tua bisa diusulkan menjadi Pahlawan Nasional dari Sulawesi Tengah. Ini adalah langkah penting untuk mengabadikan jasa beliau yang begitu besar dalam dakwah dan pendidikan,” tegasnya.
Mengangkat tema “Bergerak, Bersinergi, Berkelanjutan dalam Bingkai Akhlak dan Pendidikan”, haul ke-57 ini ingin menegaskan bahwa semangat perjuangan Guru Tua tidak berhenti di masa lalu, melainkan harus terus berlanjut sebagai panduan membangun masa depan umat.
Sejak wafatnya Guru Tua pada 12 Syawwal 1389 H (22 Desember 1969 M), api perjuangan beliau tak pernah padam. Justru semakin menyala, tersebar ke pelosok negeri dalam bentuk lembaga pendidikan, para alim ulama, dan generasi muslim cendekia yang menjadi cahaya umat.
“Haul bukan sekadar mengenang masa lalu, tapi membangun arah masa depan dengan cahaya Guru Tua sebagai pelita.”
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, penuh haru dan khidmat, sebagai ungkapan syukur dan harapan agar nilai-nilai perjuangan Guru Tua terus hidup dalam setiap langkah umat.(**)













