BANGGAI – Matahari siang menggantung tanpa ampun di atas Gedung DPRD Banggai. Panasnya merambat ke kulit, menyatu dengan kegelisahan warga Tanjung Sari, Kelurahan Keraton, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, yang sejak pagi memadati halaman Gedung DPRD Banggai. Kamis (29/1/2026).
Kehadiran mereka hari itu bukan tanpa alasan. Warga datang untuk mengikuti audiensi bersama Pengadilan Negeri (PN) Luwuk, berharap memperoleh penjelasan langsung dan kepastian hukum terkait lahan yang mereka tempati. Harapan itu dibayangi kenyataan pahit, eksekusi lahan telah dua kali dilakukan, dan kini warga kembali dihantui oleh isu akan dilakukan eksekusi yang ketiga.
Bagi warga Tanjung Sari, situasi ini bukan sekadar persoalan hukum. Ia adalah luka yang berulang. Dua kali eksekusi telah meninggalkan jejak ketakutan dan kehilangan. Kini, pada isu eksekusi yang ketiga, kegelisahan itu terasa lebih berat, karena datang setelah kelelahan panjang yang belum sempat pulih.
Tanah itu bukan sekadar hamparan tempat berpijak. Di sanalah rumah dibangun, anak-anak dibesarkan, dan kehidupan dirajut perlahan. Setiap kali isu eksekusi kembali muncul, rasa aman seolah kembali direnggut. Audiensi bersama PN Luwuk menjadi satu-satunya ruang yang mereka harapkan mampu memberi kepastian, memutus lingkar ketidakpastian yang terus berulang.
Di bawah terik matahari, penantian berlangsung dalam diam. Warga duduk berjejer, sebagian berdiri, menahan panas yang menyengat. Tidak banyak kata terucap. Wajah-wajah lelah menyimpan tanya yang sama, apakah ini akan kembali terulang untuk yang ketiga kalinya?

Di tengah tugas pengamanan audiensi, personel Satuan Samapta Polres Banggai tidak hanya berdiri menjaga barikade. Mereka melangkah mendekat, menggendong dus-dus air minum, lalu membagikannya kepada warga, kepada anak-anak yang terdiam di bawah terik, kepada para ibu yang menahan lelah, dan kepada para orang tua yang tetap bertahan meski panas menyayat.
Air itu sederhana. Namun cara ia diberikan, dengan senyum dan sapaan hangat, menjadikannya lebih dari sekadar pelepas dahaga. Ia menjelma pesan kecil bahwa di tengah trauma akibat dua kali eksekusi dan bayang-bayang isu eksekusi yang ketiga, masih ada kepedulian yang memilih hadir.
Sejumlah personil berpesan kepada warga Tanjung Sari yang tengah menanti jalannya audiensi bersama PN Luwuk. Dengan suara tenang namun tegas, seraya meminta warga tetap menjaga ketertiban dan tidak terpancing oleh kabar-kabar yang belum tentu benar.
Pernyataan itu tidak disampaikan dengan nada tinggi, melainkan dengan empati. Tegas, namun mengayomi. Seperti penyangga di tengah badai, memberi rasa aman saat bayang-bayang eksekusi yang ketiga terus menghimpit batin warga. Bagi warga, pesan itu terasa menenangkan.
Di tengah panas dan penantian audiensi, mereka tidak hanya menerima air minum, tetapi juga pengakuan atas luka dan kelelahan yang selama ini mereka simpan, luka akibat dua kali eksekusi, dan lelah menghadapi kemungkinan yang ketiga.
Hari itu, personel Samapta tetap berdiri siaga mengamankan jalannya audiensi bersama PN Luwuk. Namun mereka juga memperlihatkan wajah lain dari pengabdian, wajah yang manusiawi. Di balik seragam cokelat dan peluh yang menetes, ada kepedulian yang memilih untuk hadir, menyertai warga yang telah terlalu lama bertahan.
Sebuah pengingat sederhana, bahwa di tengah trauma dua kali eksekusi dan ancaman isu eksekusi yang ketiga, masih ada tangan yang memilih peduli, dan harapan, meski rapuh, belum sepenuhnya padam.*













