Example 970x250

Gara-gara Game Online, Remaja di Luwuk Selatan Menganiaya Teman hingga Terluka

banner 120x600

BANGGAI – Ruang digital yang sarat ego kembali memicu kekerasan nyata di dunia fisik. Hanya karena tidak mampu menahan emosi akibat saling ejek saat bermain game online “Mobile Legends”, seorang remaja berinisial MR (17) nekat menganiaya teman sepermainannya sendiri, TS (20).

Insiden berdarah ini terjadi di Kecamatan Luwuk Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, pada Minggu (31/5/2026) sore sekitar pukul 16.00 WITA. Akibat ego yang tak terkendali, korban harus mengalami luka parah di bagian wajah dan hidungnya terus mengeluarkan darah.

​Kasat Reskrim Polres Banggai, AKP Nur Arifin, membenarkan bahwa perseteruan itu murni dipicu oleh tensi permainan di dalam game yang berujung pada makian di dunia nyata.

​”Kejadian bermula dari perseteruan antara pelaku dan korban saat bermain game online Mobile Legends,” ujar AKP Nur Arifin saat dikonfirmasi.

​Permainan yang semula ditujukan untuk hiburan berubah menjadi petaka ketika kedua pemuda ini mulai saling melempar kalimat ejekan. Tersinggung dan tersulut emosi yang membakar, MR kehilangan akal sehatnya. Remaja 17 tahun ini langsung menyerang TS secara brutal menggunakan tangan kosong.

​Secara membabi buta, MR melayangkan pukulan keras ke titik-titik vital korban.
​”Pelaku yang tersulut emosi kemudian memukul ke bagian punggung, rahang, dan hidung serta mencekik leher korban,” ungkap Nur Arifin merincikan kekerasan tersebut.

​Dalam posisi terdesak dan bersimbah darah, TS berupaya menyelamatkan nyawanya. Ia berhasil melepaskan diri dari cekikan pelaku, menghindar, lalu melarikan diri untuk mencari perlindungan sebelum akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Polres Banggai.

​Polisi Bergerak Cepat, Pelaku Tak Berkutik
​Mendapat laporan resmi dengan nomor LP/B/308/V/SPKT/RES-BGI/POLDA SULTENG, Korps Bhayangkara bergerak taktis. Hanya berselang beberapa jam setelah kejadian, tepatnya pada Minggu malam, tim Satreskrim Polres Banggai berhasil meringkus MR di kediamannya.

​Di hadapan penyidik, remaja tersebut akhirnya tertunduk layu. Ruang interogasi meruntuhkan arogansinya yang sempat meledak di sore hari. MR mengakui seluruh perbuatannya telah menganiaya korban secara berulang kali.

​”Saat ini MR telah berada di Mapolres Banggai untuk pemeriksaan lebih lanjut,” tegas AKP Nur Arifin.

​Kasus ini menjadi alarm keras bagi generasi muda mengenai rentannya kontrol emosi di tengah paparan kultur gaming yang toksik. Kini, alih-alih menaikkan peringkat (rank) di dalam game, MR justru harus bersiap menghadapi ancaman jeruji besi akibat tindakan impulsifnya.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *