BANGGAI – Kepindahan AKP Usman dari jabatannya sebagai Kasat Intel Polres Banggai menjadi PS Kanit 1 Subdit 3 Intelkam Polda Sulawesi Tengah menyisakan cerita yang tak sederhana bagi para jurnalis di Kabupaten Banggai. Bagi sebagian orang, mutasi adalah hal biasa dalam tubuh Polri. Namun bagi kalangan media, kehadiran dan peran seorang AKP Usman lebih dari sekadar pengemban jabatan. Ia adalah sosok yang secara perlahan namun pasti menjadi bagian penting dari ekosistem komunikasi antara kepolisian dan dunia pers di daerah ini.
Selama bertugas di Banggai, AKP Usman hadir dengan gaya kepemimpinan yang berbeda. Ia tidak menonjolkan jabatan, tidak pula menampilkan kewibawaan dengan suara keras atau perintah singkat yang menggentarkan. Sebaliknya, ia lebih banyak membangun kedekatan melalui dialog santai, sikap rendah hati, dan kemauan untuk menjawab pertanyaan, bahkan ketika situasi sedang tidak menguntungkan. Sikap sederhana itu membuatnya mudah diterima, baik di lingkungan internal kepolisian maupun oleh para wartawan yang hampir setiap hari bersinggungan dengan tugas-tugasnya.
Di mata para jurnalis, Usman dikenal sebagai perwira yang tidak sulit dihubungi. Pesan yang dikirimkan ke ponselnya hampir selalu dibalas, meski hanya dengan kalimat singkat yang menandakan ia sedang menelusuri informasi lebih lanjut. Dalam kondisi sesibuk apa pun, ia berusaha menjaga ruang komunikasi tetap terbuka. Hal sederhana itu, bagi wartawan, bernilai sangat besar. Dalam dunia pemberitaan yang menuntut kecepatan dan ketepatan, memiliki narasumber yang responsif dan terpercaya menjadi anugerah tersendiri.
Tidak sedikit wartawan yang mengakui bahwa kehadiran AKP Usman membantu mereka keluar dari situasi buntu ketika berita membutuhkan klarifikasi penting. Ia juga sering kali mengingatkan wartawan untuk menjaga keseimbangan informasi, tanpa pernah berusaha mengintervensi. Cara Usman berkomunikasi membuat hubungan antara kepolisian dan media berjalan tanpa ketegangan. Baginya, jurnalis bukan sekadar orang yang mencari berita; mereka adalah bagian dari sistem informasi publik yang turut menjaga stabilitas keamanan.
Dalam berbagai operasi kepolisian, terutama yang menyangkut isu sensitif, AKP Usman tampil sebagai sosok penyejuk. Ia jarang terpancing emosi, bahkan ketika pemberitaan memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Ketika diminta tanggapan, ia justru menekankan pentingnya klarifikasi objektif dan data yang terverifikasi. Hal inilah yang membuat banyak jurnalis menghormatinya, bukan hanya sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai pribadi yang memahami dinamika kerja pers.
Maka ketika kabar kepindahannya diumumkan, suasana haru seolah tak terhindarkan. Bagi sebagian jurnalis, Usman bukan hanya meninggalkan jabatan lamanya, tetapi juga meninggalkan ruang komunikasi yang selama ini dibangunnya dengan sabar. Banyak wartawan menyampaikan ucapan selamat dan doa, meski dalam hati mereka merasakan kehilangan yang nyata.
“Beliau itu bukan hanya perwira, tapi teman dialog. Kalau ada masalah di lapangan, beliau selalu bilang, ‘Kita bicarakan dulu, supaya jelas semua. ‘Sikap itu yang membuat kami nyaman dengan beliau,” ujar seorang jurnalis yang cukup dekat dengan Usman.
Namun di balik rasa kehilangan itu, para jurnalis memahami bahwa setiap perwira Polri memiliki perjalanan dinas yang terus bergerak. Mutasi bukan akhir dari hubungan yang telah terjalin baik. Justru, bagi sebagian jurnalis, kepindahan Usman menjadi PS Kanit 1 Subdit 3 Intelkam Polda Sulteng adalah langkah besar yang layak diapresiasi. Mereka berharap pengalaman dan keteladanan yang ditinggalkannya di Banggai dapat terus ia bawa ke lingkungan tugas yang lebih luas.
Di tempat tugas barunya nanti, para jurnalis percaya bahwa karakter Usman yang sederhana, terbuka, dan komunikatif akan tetap menjadi ciri khasnya. Mereka percaya, gaya kepemimpinan seperti itu dibutuhkan tidak hanya dalam hubungan dengan media, tetapi juga dalam dinamika intelijen di level Polda yang jauh lebih kompleks.
Kisah AKP Usman di Banggai mungkin telah memasuki babak baru, namun jejaknya tidak mudah dilupakan. Ia meninggalkan pelajaran penting tentang bagaimana seorang perwira dapat tetap humanis tanpa kehilangan ketegasan, serta bagaimana komunikasi yang baik dapat menjadi jembatan kuat antara aparat negara dan insan pers.
Pada akhirnya, kepergian AKP Usman bukan hanya tentang perpindahan jabatan. Ini adalah cerita tentang kedekatan, profesionalisme, dan nilai kemanusiaan yang tumbuh dalam dunia kerja yang keras sebuah cerita yang bagi para jurnalis Banggai akan tetap melekat, bahkan ketika sang perwira telah melangkah menuju tanggung jawab baru di Polda Sulawesi Tengah.*













