Memasuki usia ke-59, Korps HMI-Wati (Kohati) tidak hanya sedang memperingati sebuah perjalanan organisasi, tetapi juga membuka ruang refleksi atas peran strategis perempuan dalam ranah sosial, keagamaan, dan kebangsaan. Bagi daerah seperti Banggai, peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum penting untuk kembali menguatkan gerakan perempuan yang berakar pada nilai keislaman, keilmuan, dan kebangsaan—tiga prinsip utama yang menjadi pondasi gerak Kohati sejak kelahirannya.
Dalam konteks lokal, Banggai adalah wilayah yang memiliki kekayaan sosial budaya yang khas. Di balik adat dan struktur masyarakatnya, perempuan memainkan peran sentral yang tidak bisa dinafikan. Di banyak desa, mereka adalah penopang utama ekonomi keluarga, pelestari budaya, hingga pemegang peran dalam struktur sosial informal. Namun realitas zaman telah berubah, dan perempuan Banggai tidak bisa hanya diposisikan sebagai penjaga nilai—mereka harus menjadi bagian dari agen perubahan sosial yang aktif.
Meski peran sosial perempuan cukup besar dalam kehidupan masyarakat, tantangan struktural masih membatasi gerak mereka. Budaya patriarki masih kuat mengakar dalam banyak aspek kehidupan, mulai dari pembagian peran domestik yang timpang, hingga rendahnya keterwakilan perempuan dalam struktur pengambilan kebijakan publik. Di sisi lain, akses terhadap pendidikan, informasi, dan pengembangan diri masih menjadi tantangan nyata, terutama di wilayah pedesaan yang jauh dari pusat pemerintahan daerah.
Inilah yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kohati dan gerakan perempuan secara umum. Kohati tidak bisa hanya menjadi tempat diskusi atau sekadar memperingati hari-hari besar keorganisasian. Kohati harus bergerak sebagai laboratorium kaderisasi yang menghasilkan perempuan-perempuan progresif, kritis, dan berdaya. Perempuan yang tidak hanya cakap dalam narasi, tetapi juga mampu hadir dalam kerja-kerja nyata yang menyentuh akar rumput.
Kaderisasi di tubuh Kohati seharusnya diarahkan pada penguatan kapasitas intelektual dan spiritual kader. Pendidikan kritis harus menjadi bagian dari kurikulum kaderisasi—perempuan perlu diajak membaca realitas sosial dengan kacamata yang tajam dan berpihak pada keadilan. Ini menjadi penting, karena tanpa basis intelektual yang kuat, gerakan perempuan hanya akan terjebak pada aktivisme seremonial dan simbolik semata.
Namun, intelektualitas saja tidak cukup. Kohati dituntut untuk menjadi jembatan antara ide dan aksi. Program-program yang menyentuh masyarakat akar rumput perlu dirancang dan dijalankan secara berkelanjutan. Mulai dari pendampingan kelompok usaha perempuan, edukasi kesehatan dan lingkungan, hingga advokasi hak pendidikan dan perlindungan perempuan di tingkat desa.
Selain itu, membangun kolaborasi lintas sektor menjadi strategi penting. Kohati tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan sektor swasta akan membuka ruang partisipasi yang lebih luas, serta memperkuat posisi perempuan dalam proses pembangunan daerah.
Refleksi Milad ke-59 ini pada akhirnya menjadi panggilan moral bagi seluruh kader Kohati di Banggai dan di seluruh Indonesia. Bahwa perjuangan belum selesai, dan jalan masih panjang. Namun selama semangat perjuangan tetap dijaga, harapan akan perubahan tetap ada.
Perempuan Banggai tidak boleh berhenti sebagai saksi sejarah. Sudah saatnya mereka menjadi penulis sejarah. Menjadi bagian dari proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembangunan di daerahnya. Menjadi pengambil keputusan, bukan hanya pelaksana. Menjadi pemimpin, bukan sekadar pengikut.
Dengan semangat Milad ke-59, Kohati harus terus menjaga nyala api perjuangan itu. Sebab masa depan Banggai tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau politik, tetapi juga oleh sejauh mana perempuannya diberdayakan, diakui, dan dilibatkan secara aktif dalam seluruh aspek kehidupan.
Oleh: Yuniya Putri Novita
KOHATI Cabang Luwuk Banggai













