Example 970x250

Masih Banyak Anak Tak Sekolah, Pemda Banggai Ambil Langkah Nyata

banner 120x600

BANGGAI – Masalah anak putus sekolah masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Kabupaten Banggai, khususnya di desa-desa pesisir seperti Desa Sepa, Kecamatan Pagimana. Apen dan Sintia, dua anak remaja asal desa tersebut, menjadi contoh nyata dari tantangan yang dihadapi generasi muda dalam mengakses pendidikan lanjutan.

Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah dasar, Apen dan Sintia terpaksa berhenti sekolah. Keterbatasan ekonomi keluarga, jauhnya jarak sekolah menengah, dan sulitnya akses transportasi menjadi penyebab utama keduanya tidak melanjutkan pendidikan.

“Kami tidak mampu biayai sekolah lebih tinggi, apalagi sekolahnya jauh dari sini,” ujar salah satu orang tua mereka saat ditemui di Desa Sepa.

Selain faktor ekonomi dan geografis, rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan serta kurangnya motivasi anak-anak juga turut memperparah kondisi tersebut. Situasi ini bukan hanya terjadi di Desa Sepa, tetapi juga di berbagai desa terpencil lain di Kabupaten Banggai.

Menanggapi persoalan ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai melalui Kecamatan Pagimana meluncurkan program “Pagimana Bersekolah”. Program ini dirancang untuk memberikan solusi konkret terhadap masalah putus sekolah, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan yang tinggal jauh dari sekolah.

Program ini mencakup, penyediaan tempat tinggal sementara bagi anak-anak yang sekolahnya jauh, Pembinaan dan pendampingan untuk memastikan anak tetap bersekolah, kolaborasi dengan sekolah, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa, sosialisasi manfaat bantuan pendidikan seperti BOS dan KIP.

Tak hanya pendidikan formal, pemerintah juga mendorong pendidikan nonformal melalui program kesetaraan (Paket A, B, dan C) serta pelatihan keterampilan kerja bagi anak-anak usia sekolah yang sudah terlanjur berhenti.

“Kita harap masyarakat bisa lebih sadar pentingnya pendidikan, dan pemerintah desa juga ikut aktif mendata serta mendorong anak-anak untuk kembali ke sekolah,” kata salah satu tokoh masyarakat Desa Sepa.

Pemda Banggai menyadari bahwa program pemerintah tidak akan berhasil tanpa dukungan dari semua pihak, termasuk masyarakat dan orang tua. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan tidak hanya berbasis bantuan, tetapi juga penyadaran dan pemberdayaan.

Kisah Apen dan Sintia hanyalah satu dari banyak cerita yang menggambarkan kenyataan di lapangan. Melalui program dan kerja sama yang berkelanjutan, Pemda Banggai menegaskan komitmennya untuk menurunkan angka putus sekolah dan memastikan bahwa semua anak di daerah ini memiliki akses yang sama terhadap pendidikan.

“Pendidikan adalah hak setiap anak. Kita harus pastikan tidak ada lagi anak yang tertinggal karena alasan ekonomi atau jarak,” tegas perwakilan dari pemerintah kecamatan.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *