Example 970x250

Pemuda Nambo Gaungkan Nilai Kesederhanaan Rasulullah di Malam Ramadhan

banner 120x600

BANGGAI – Malam kelima Ramadhan 1447 Hijriah di Desa Syambongin, Kecamatan Nambo, terasa berbeda. Usai salat Isya, jamaah Masjid Ar-Rahma tak beranjak. Lampu-lampu masjid memantulkan cahaya hangat ke wajah para orangtua dan pemuda yang duduk bersaf-saf, menunggu tausiyah dimulai.

Di mimbar sederhana itu, Muhamad Dalle berdiri. Koordinator Bidang Keagamaan Karang Taruna Kecamatan Nambo dan alumni Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut memilih satu tema yang dekat dengan kehidupan warga, yaitu, “Keteladanan Muhammad Dalam Menghadapi Kemiskinan”.

Dengan suara tenang, ia membawa jamaah pada potongan-potongan kisah Nabi, tentang hari-hari ketika dapur tak lagi berasap, tentang kesabaran menghadapi lapar, tentang kerja keras tanpa kehilangan martabat. Suasana hening. Beberapa pemuda di saf belakang menunduk, menyimak dengan sorot mata yang tak lagi sekadar formalitas menghadiri ceramah.

“Rasulullah mengajarkan kita, kemuliaan bukan diukur dari banyaknya harta, tetapi dari kejujuran dan kepedulian,” kata Dalle.

Pesan itu seperti menyentuh ruang-ruang sunyi dalam diri jamaah. Di tengah tantangan zaman ketika sebagian generasi muda tergoda narkotika, minuman keras, dan pergaulan bebas tausiyah malam itu menjadi pengingat bahwa kesederhanaan bukan kelemahan, melainkan kekuatan moral.

Ketua Karang Taruna Kecamatan Nambo, Ahyar A. Mokoagow, menyebut Ramadhan tahun ini dijadikan momentum membangun kembali semangat kepedulian di kalangan pemuda. Selain ceramah, Karang Taruna menyiapkan santunan dan kegiatan sosial sebagai wujud nyata dari nilai yang disampaikan.

“Ramadhan harus melahirkan gerakan. Pemuda tidak boleh hanya hadir sebagai penonton, tapi menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.

Ketika iqamah Tarawih berkumandang, jamaah berdiri dan merapatkan barisan. Di antara lantunan doa dan rakaat yang kembali ditegakkan, pesan tentang kesederhanaan terasa mengendap lebih dalam.

Malam itu, di masjid kecil Syambongin, Ramadhan tak sekadar menjadi rutinitas ibadah. Ia menjelma menjadi ruang refleksi tentang hidup yang sederhana, tentang pemuda yang memilih jalan terang, dan tentang harapan yang tumbuh di antara saf-saf yang rapat.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *