Example 970x250

Tak Minta Dipuji, Tak Ingin Dikenal, Pemuda Sayambongin Hanya Ingin Tuhan Tersenyum

banner 120x600

BANGGAI – Pagi itu, Minggu (16/2/2026), di Masjid Ar-Rahma Desa Sayambongin, Kecamatan Nambo, tak terdengar suara ceramah atau lantunan ayat suci. Yang terdengar hanyalah gesekan sapu di lantai, percikan air saat karpet dicuci, dan napas pemuda-pemuda yang bekerja tanpa banyak bicara.

Jelang Ramadan 1447 H, pengurus dan anggota Karang Taruna Desa Sayambongin memilih menyambut bulan suci dengan cara sederhana namun penuh makna, membersihkan rumah Allah.

Karpet yang selama ini menjadi tempat sujud warga diangkat dan dicuci hingga bersih. Debu-debu di kipas angin yang nyaris tak terlihat dibersihkan perlahan. Tempat duduk dirapikan. Setiap sudut masjid disentuh dengan tangan-tangan muda yang bekerja bukan karena perintah, melainkan karena panggilan hati.

Ray Lakoro, pengurus Karang Taruna, dengan suara yang tenang berkata, “Kami ingin Ramadan kali ini terasa berbeda. Bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tapi benar-benar memulai dengan hati yang bersih. Kalau masjidnya bersih, semoga hati kami juga ikut bersih.” ucap Ray.

Ucapan itu sederhana. Namun di baliknya ada ketulusan yang sulit digambarkan.

Kepala Desa Sayambongin, Ruslan T. Polopa, mengaku terharu melihat para pemuda desa bekerja tanpa pamrih.

“Saya bangga. Di tengah zaman yang serba cepat, mereka masih mau peduli, masih mau datang ke masjid, masih mau berkeringat demi kenyamanan orang lain,” ujarnya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

Ada momen ketika seorang pemuda mengangkat karpet yang berat, sementara yang lain membantu tanpa diminta. Tak ada yang merasa lebih tinggi, tak ada yang ingin dipuji. Yang ada hanya kebersamaan dan keikhlasan.

Setiap tetes keringat yang jatuh ke lantai masjid itu seakan menjadi saksi bahwa cinta kepada Tuhan dan desa tidak selalu harus dengan kata-kata besar. Kadang, ia hadir lewat sapuan sapu yang perlahan. Lewat tangan yang rela kotor agar orang lain bisa beribadah dengan nyaman.

Ramadan memang belum tiba. Namun di Desa Sayambongin, semangatnya sudah terasa.

Dan mungkin, tanpa disadari, bukan hanya masjid yang mereka bersihkan hari itu melainkan juga hati mereka sendiri.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *