BANGGAI – Di Tanjung Sari, ingatan bukan sekadar masa lalu. Ia hidup, berdenyut, dan sewaktu-waktu bisa kembali menyakitkan. Kawasan di jantung Kota Luwuk itu menyimpan jejak luka yang belum benar-benar sembuh sejak penggusuran paksa beberapa tahun silam merobek ruang hidup ribuan warganya. Kini, luka itu kembali terasa perih, setelah isu rencana eksekusi lahan kembali beredar, memaksa warga membuka kembali halaman kelam dalam sejarah hidup mereka.
Bagi masyarakat Tanjung Sari, penggusuran bukan sekadar peristiwa hukum atau administrasi pertanahan. Ia adalah peristiwa kemanusiaan yang memisahkan manusia dari rumah, kenangan, dan rasa aman. Rumah-rumah yang dulu berdiri rapat, tempat anak-anak tumbuh, tempat doa-doa dipanjatkan diratakan dalam waktu singkat. Yang tersisa hanyalah puing, debu, dan trauma yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Isu eksekusi lahan yang kembali mencuat belakangan ini seolah menjadi alarm trauma kolektif. Meski belum disertai penjelasan resmi dari pihak berwenang, kabar itu cukup untuk mengoyak ketenangan warga. Ketidakpastian menjadi ketakutan paling nyata: takut kehilangan lagi, takut terusir lagi, takut harus kembali memulai hidup dari titik nol.
Ketakutan itu mencapai puncaknya pada Selasa malam (6/1/2026), ketika warga Tanjung Sari bersama sejumlah aktivis dan mahasiswa berkumpul di salah satu lahan kosong. Malam itu mereka menggelar nonton bareng video dokumentasi eksekusi kawasan Tanjung Sari. Bukan untuk membuka luka, tetapi untuk mengingat bahwa luka itu masih ada.
Saat layar memutar rekaman pembongkaran rumah, suara alat berat, dan kepanikan warga yang berlarian menyelamatkan barang seadanya, suasana ruangan berubah menjadi sunyi. Tangis terdengar perlahan, lalu pecah. Air mata mengalir tanpa bisa dibendung. Beberapa warga menunduk, bahu mereka bergetar. Yang lain saling memeluk, mencoba menguatkan satu sama lain di tengah ingatan yang kembali menyerang.
Malam itu, Tanjung Sari tidak hanya menonton video. Mereka sedang menonton ulang kehancuran hidup mereka sendiri.
Seorang ibu paruh baya terlihat mengusap matanya berkali-kali.
“Di situ rumah saya,” katanya lirih sambil menunjuk layar. Rumah yang dibangun puluhan tahun, hilang dalam hitungan jam. Bagi sebagian warga, kehilangan itu tidak pernah tergantikan, bukan hanya soal bangunan, tetapi tentang rasa memiliki dan martabat sebagai manusia.
Aktivis dan mahasiswa yang hadir menyaksikan langsung betapa konflik agraria bukan sekadar data atau angka statistik. Ia adalah kisah tentang manusia yang dipaksa berhadapan dengan kekuasaan tanpa ruang dialog yang setara. Mereka menilai, pemutaran video ini menjadi pengingat bahwa penyelesaian konflik lahan harus berpijak pada keadilan sosial dan kemanusiaan, bukan semata-mata pendekatan hukum yang kaku.
Hingga hari ini, masyarakat Tanjung Sari masih hidup dalam ketidakpastian. Mereka menunggu kejelasan, menunggu keberpihakan, menunggu kehadiran negara yang seharusnya melindungi, bukan menakut-nakuti.
Trauma masa lalu masih membekas, dan isu eksekusi lahan yang kembali mencuat hanya memperpanjang deretan luka yang belum sempat sembuh.
Di Tanjung Sari, malam-malam masih sering diisi kecemasan. Warga tidur dengan rasa waswas, bertanya-tanya apakah esok hari mereka masih memiliki tempat untuk pulang. Mereka tidak meminta banyak, hanya kepastian, keadilan, dan perlakuan yang manusiawi. Agar sejarah kelam penggusuran tidak lagi berulang, dan agar air mata yang jatuh malam itu menjadi yang terakhir.*













