Example 970x250

DASBA 6000, Sejarah Besar Bintara Brimob 1997 yang Tak Terlupakan

banner 120x600

JAKARTA — Tahun 1997 menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah Korps Brigade Mobil (Brimob) Polri. Pada masa kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Dibyo Widodo, sebanyak 6.000 Bintara Polri angkatan 1996/1997 dididik untuk menjadi personel Brimob melalui pendidikan di Watukosek, Jawa Timur.

Angkatan yang kemudian dikenal dengan sebutan “Dasba 6000” itu menjadi bagian dari sejarah pengembangan kekuatan personel Brimob di Indonesia. Ribuan bintara tersebut menjalani pendidikan dan pembentukan fisik serta mental sebelum akhirnya menyandang baret biru kebanggaan Korps Brimob.

Proses pendidikan itu tidak sekadar mengandalkan kemampuan fisik, tetapi juga menempa kedisiplinan, ketahanan mental, keberanian, dan jiwa korsa. Gunung Penanggungan, Gunung Ringgit, dan Gunung Welirang menjadi bagian dari medan penggemblengan yang meninggalkan kenangan tersendiri bagi para personel Dasba 6000 pada 1997.

Pembentukan ribuan personel dalam satu angkatan tersebut juga menjadi bagian dari perkembangan organisasi Brimob. Seiring penguatan personel, satuan-satuan Brimob di berbagai provinsi mengalami pengembangan, mulai dari tingkat kompi hingga batalion.

Setahun setelah pendidikan tersebut, Indonesia memasuki salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah reformasi. Pada 1998, Jakarta dilanda gelombang demonstrasi dan kerusuhan yang berpuncak pada Mei 1998, ketika Presiden Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa.

Dalam situasi tersebut, ribuan personel Brimob dari berbagai Polda dikerahkan ke Ibu Kota untuk menghadapi situasi keamanan yang berkembang saat itu.

Perjalanan sejarah tersebut menjadi bagian dari pengalaman panjang para personel Dasba 6000. Mereka pernah ditempa dalam satu masa pendidikan, kemudian menjalani pengabdian di berbagai daerah dan penugasan dengan tantangan masing-masing.

Kini, setelah hampir tiga dekade berlalu, para alumni Dasba 6000 telah memasuki usia sekitar 48 hingga 52 tahun. Sebagian masih mengabdi di lingkungan Korps Brimob, sementara lainnya telah berpindah penugasan ke fungsi kepolisian umum.

Waktu boleh berlalu, usia boleh bertambah, dan tempat pengabdian boleh berbeda. Namun, kenangan menjalani pendidikan bersama, melewati kerasnya medan latihan, hingga akhirnya mengenakan baret biru merupakan ikatan sejarah yang tidak mudah dilupakan. */Ay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *