Example 970x250

Safari Dakwah Karang Taruna Nambo Dimulai, Pesan Ampunan Ramadhan Menggema dari Koyoan

banner 120x600

BANGGAI – Malam itu, Masjid Al-Istiqamah di Desa Koyoan tak hanya dipenuhi jamaah, tetapi juga harapan. Di antara saf-saf yang rapat dan suara lantunan ayat suci, Karang Taruna Kecamatan Nambo memulai Safari Dakwah Ramadhan 1447 Hijriah, Jumat (20/2/2026), dengan satu pesan sederhana namun dalam, Ramadhan adalah bulan ampunan.

Di mimbar sederhana itu berdiri Dr. Muhamad Dalle, Koordinator Bidang Keagamaan Karang Taruna Kecamatan Nambo. Alumni Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang itu menyampaikan ceramah bertema “Bulan Ramadhan Bulan yang Penuh Ampunan” dengan suara tenang, tanpa nada menggurui.

“Tidak ada manusia yang tak pernah salah. Tapi Ramadhan selalu memberi kita kesempatan untuk kembali,” ujarnya, pelan namun menggetarkan.

Di barisan depan, sejumlah orang tua tampak mengangguk. Ada yang memejamkan mata. Ada pula yang sesekali menyeka sudut matanya. Mereka tahu, pesan itu bukan sekadar nasihat rutin Ramadhan. Ia seperti jawaban atas kegelisahan yang lama disimpan.

Ketua Karang Taruna Kecamatan Nambo, pada media ini, tak menampik, kenyataan pahit yang dihadapi generasi muda hari ini. Di tengah kemajuan zaman, arus informasi yang tak terbendung, dan pergaulan yang makin bebas, tak sedikit pemuda yang terseret dalam pusaran narkotika, minuman keras, dan penyalahgunaan obat-obatan.

“Kami prihatin. Tapi kami tidak ingin hanya mengeluh. Kami ingin bergerak,” katanya.

Safari dakwah ini, menurutnya, bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah ikhtiar kecil untuk menyelamatkan masa depan. Untuk mengingatkan bahwa pemuda tak selamanya harus identik dengan kegelisahan dan kenakalan. Bahwa mereka juga bisa menjadi penjaga nilai, penggerak kebaikan, dan penyalur cahaya di tengah gelapnya zaman.

Ramadhan, bagi Karang Taruna Nambo, adalah ruang untuk memulai kembali. Untuk merangkul, bukan menghakimi. Untuk membina, bukan mencela.

Respons masyarakat pun mengalir hangat. Tokoh agama dan tokoh masyarakat menyambut langkah para pemuda itu dengan apresiasi. Mereka melihat sesuatu yang menumbuhkan harapan, anak-anak muda yang memilih berdiri di mimbar dakwah, bukan di sudut-sudut yang merusak diri.

Safari dakwah ini dijadwalkan berlanjut ke desa-desa lain di Kecamatan Nambo sepanjang bulan suci. Namun malam di Koyoan itu terasa istimewa. Seperti sebuah penanda bahwa perubahan, betapapun kecil, selalu dimulai dari keberanian untuk melangkah.

Di bawah cahaya lampu masjid yang temaram, para pemuda itu mungkin belum sepenuhnya mengubah dunia. Tapi mereka telah memilih untuk tidak menyerah pada zaman. Dan bagi sebagian orang tua yang hadir, pilihan itu saja sudah cukup untuk membuat hati mereka haru.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *