BANGGAI – Asap tipis masih membubung dari puing-puing bangunan di Jalan Batu Putih, Kelurahan Bungin Timur, Luwuk, Banggai. Hari baru menunjuk pukul 16.30 WITA, Rabu, 29 Juli 2026, ketika tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (INAFIS) Polresta Banggai mulai menyisir sisa-sisa kayu hangus dan jelaga yang menghitam.
Dua jam sebelumnya, api melahap habis isi rumah kayu dua lantai itu. Petugas pemadam kebakaran berjibaku menaklukkan si jago merah hingga proses pendinginan tuntas tepat pukul 16.00 WITA. Tak ada korban jiwa dalam musibah ini, namun kerugian materiil ditaksir mencapai Rp100 juta. Barang-barang rumah tangga dari sofa, meja makan, mesin cuci, lemari pakaian, hingga mesin penggilingan bakso ludes jadi arang.
Pertanyaannya kini, dari mana asal muasal api?
Pertanyaan itu memicu teka-teki. Pemilik rumah, M. Nasir (51), mengonfirmasi bahwa bangunan tersebut sudah kosong melompong selama dua tahun. Bahkan, aliran listrik dari PLN telah diputus sejak setahun lalu. Secara teori, korsleting listrik, penyebab klasik kebakaran pemukiman bisa dicoret dari daftar kecurigaan awal.
Namun, rumah tua yang dibiarkan mangkrak itu ternyata tak benar-benar sepi. Kesaksian warga sekitar mengungkap tabir lain: lantai dua rumah kerap dijadikan markas tersembunyi oleh sekelompok anak muda tak dikenal. Di sana, mereka berkumpul, merokok, hingga mengisap lem Fox. Bungkus lem dan puntung rokok yang tercecer di lantai kayu diduga kuat menjadi ‘pemicu sunyi’ musibah sore itu.
“Kami sedang mendalami sumber api yang menyebabkan kebakaran di kawasan ini,” tegas Kasi Humas Polresta Banggai, AKP Saiman. “Masih kita dalami, kita cocokkan keterangan saksi dengan alat bukti di lokasi.”
Penyelidikan kini terus berjalan. Polisi berpacu mengumpulkan kepingan bukti untuk memastikan apakah kecerobohan kelompok remaja itu yang memicu petaka di Bungin Timur.(Ay)













